Kamis, 13 Agustus 2009

Seni Developmental Organization, seni mendukung orang lain untuk berkembang, seninya Mbah Surip

Bayangkan jika uang seribu trilyun dibagikan untuk rakyat miskin di Indonesia, bagaimana jadinya?
Secara makro ekonomi meningkatnya peredaran uang akan memicu inflasi yang tinggi. Meningkatnya daya beli meningkatkan permintaan (demand) yang tidak sertamerta mampu dipenuhi (supply), akan menaikkan harga barang sehingga nilai uang akan turun.
Membagikan uang (kecuali kondisi tertentu) tidak akan menghasilkan peningkatan nilai apapun di masyarakat, dimana masyarakat penerima uang tidak menerima manfaat riil nilai uang yang dibagikan dan masyarakat yang tidak menerima uang harus merelakan nilai uang yang dimilikinya berkurang.
Bagaimana jika uang tadi dibelikan kepada mesin-mesin produksi dan dibagikan ke rakyat miskin? Jika satu mesin harga satu juta dengan bahan baku satu juta menghasilkan produksi senilai tiga juta, maka uang dua juta nilainya setara dengan tiga juta, maka tercipta nilai tambah sebesar 50%.
Sejauh apa nilai tambah ini bermanfaat? Komunitas mereka tidak perlu lagi membeli dari luar, sehingga nilai import mereka turun dibanding nilai eksport. Akibatnya secara ekonomi akan terjadi deflasi sebagai lawan dari inflasi yang meningkatkan nilai mata uang dan meningkatkan kemakmuran. Siapa saja yang memegang uang akan berterimakasih karena nilai uangnya meningkat.
Setiap nilai tambah yang tercipta akan menguntungkan bagi semua. Prinsipnya sama dengan effisiensi dari nilai entropi suatu sistem dalam mesin, semakin efisien dia semakin kecil nilai kerugiannya semakin besar manfaatnya bagi seluruh isi alam.
Contohnya setelah didekat rumahnya ada pabrik kerupuk maka penjual kerupuk tidak perlu pergi jauh membeli kerupuk sehingga berkurang bensin yang dibakar dan berkontribusi dalam mengatasi kelangkaan bahan bakar serta menguntungkan siapa saja pengguna bahan bakar dan seterusnya.
Dalam perusahaan nilai tambah bukanlah menambah jumlah produksi, namun mengupayakan peningkatan nilai produksi, diantaranya memperbaiki kualitas produksi melalui inovasi kreatif pekerjanya atau mengurangi beban produksi (hemat biaya).
Pemahaman untuk menghasilkan nilai tambah baik secara langsung (oleh diri sendiri) maupun tidak langsung (dengan mendukung orang lain untuk menghasilkan suatu nilai tambah), adalah pemahaman dasar dari Developmental Organization (beyond Learning Organization), suatu sistem organisasi yang mengarahkan visi misi organisasi pada penciptaan nilai tambah sehingga bisa tumbuh berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dan lingkungannya.
Praktek Developmental Organization yang pernah kami terapkan bersama-sama (foto terlampir) didukung konsistensi BOD dan CEO yang change agent, membuktikan hasil yang luar biasa, yang mampu merubah total perusahaan dari tidak ada inovasi menjadi penghasil ratusan inovasi dengan tambahan keuntungan milyaran rupiah setiap tahunnya.
Dalam perusahaan setiap orang punya keunikan masing-masing, namun tidak semuanya mampu mengaktualisasikan di pekerjaaan sehingga terjebak dalam rutinitas SOP belaka. Sedikit sentuhan dukungan dari atasan atau sesama pekerja bisa menimbulkan letupan-letupan inovasi luarbiasa dari masing-masing mereka dengan keunikan yang bahkan diluar dugaan. Anda akan kaget menemukan karyawan yang masih tekun walau jam kerja sudah usai atau berkelompok minta ijin masuk dihari libur tanpa dibayar. Disini semakin tinggi jabatan seseorang semakin dia hilang dibalik prestasi bawahan buah hasil dukungannya. Hal ini merupakan kejadian sehari-hari dalam suatu Developmental Organization.
Ketika suatu organisasi sampai di tahap Beyond Learning Organization, maka seluruh isi organisasi sudah menembus sampai kebatas-batas nilai kemanusiaan, mereka masuk ketahap nilai-nilai filosofis dan Ketuhanan (Adversity dan Spiritual Quotient/ 8 habits). Mungkin ini yang dimaksud Jack Welch; "Anda tidak mampu memiliki siapa saja yang berjalan melalui pintu gerbang sebuah pabrik atau kedalam sebuah kantor yang tidak memberikan 120% (Dessler, 1997).
Adalah seni tersendiri bagi HR membangun lingkungan yang saling mendukung untuk menghasilkan nilai tambah. Mendukung dengan tidak tanggung-tanggung termasuk jika hanya dirinya dan Tuhannya saja yang tahu (SQ). Melepaskan ego dari apapun termasuk apakah orang yang didukung akan berterimakasih atau tidak. Sikap yang sama yakinnya dengan Law of Paradoks dari Tao Leadership; bahwa hakikat memberi itu sesungguhnya menerima.
Dalam Developmental Organization seni saling mendukung ini ditanam dan dipupuk sehingga tumbuh berkembang menjadi budaya yang melekat pada seluruh anggota, sebagaimana diterapkan banyak perusahaan besar seperti GE, Toyota, Samsung, Accenture, Google dll.
Seni ini dilagukan oleh Mbah Surip; ”tak gendong...kemana-mana...”, seperti mengajak kita semua untuk merenung, tetap optimis dan tidak apatis melihat kenyataan yang ada di masyarakat kita kini yang seolah saling berlomba dengan segala cara meraih segalanya... buat dirinya sendiri. He..he.. jadi ingat peserta kampanye yang ngambek tidak mau pulang sebelum bayarannya dicukupi..ha..ha...ha... I love you full... kata Mbah Surip. (zbu/08/09).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar