Penyebab utama krisis global adalah bergesernya fungsi finans menjadi finansialisasi yang bersifat spekulasi, berupa transformasi aliran pendapatan di masa depan (dari keuntungan, dividen, atau pembayaran tingkat bunga), ke dalam aset-aset yang bisa diperdagangkan seperti, saham (stock) atau surat obligasi (bond). Contoh: pendapatan korporasi di masa depan diubah ke dalam saham ekuitas yang kemudian diperjualbelikan di pasar kapital. (lihat: http://www.fy-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=101:opinion&id=1064:krisis-dunia&Itemid=318).
Gambar 1. Fungsi finans yang bergeser
Dampak dari finansialisasi akan sangat merusak ketika spekulasi mengarah kepada hal yang tidak diinginkan atau tidak sesuai perkiraan, seperti terjadi dalam masalah kredit perumahan di Amerika Serikat yang menjadi pemicu krisis finansial secara logika digambarkan dalam bagan alir berikut:
Gambar 2. Siklus finansialisasi kredit perumahan Amerika Serikat
Krisis dimulai ketika broker memiliki ”sedikit itikad tidak baik” memanfaatkan sistem finansialisasi dengan melakukan mark-up nilai kredit serta menekan pihak penilai rating kredit untuk memberi nilai tinggi (AA) agar pihak bank bersedia menyalurkan pinjaman dengan nilai yang jauh diatas nilai sebenarnya. Mereka lalu menggulirkannya ke pasar kapital sehingga dampak kesalahan awal tersebut makin berlipat ganda merusak ekonomi termasuk berujung phk bagi buruh Indonesia (??).
Ketika potensi masa depan sedikit saja melenceng dari prediksi, saat peminjam tidak mampu membayar, asuransi penjamin pailit dan pemberi pinjaman (lenders) panik karena nilai aset jauh dibawah nilai pinjaman. Akibatnya lenders memutuskan menolak memberi pinjaman kepada siapapun dengan segala resikonya sehingga merusak keseluruhan fungsi finans. Karena finans adalah fondasi bagi ekonomi maka sektor ekonomipun jadi ambruk termasuk sektor riil.
Skenario yang memicu krisis ekonomi global tahun 2008 ini membangunkan investor dari mimpi pada realita bahwa finansialisasi tidak lebih dari sekedar judi biasa dan window yang logis dalam berinvestasi adalah sektor riil. Jack Welch yang dijuluki bapak sektor riil menyebut krisis ini sebagai bom kebodohan yang luar biasa para kapitalis.
Kesadaran tersebut makin menguat setelah melihat pertumbuhan yang dicapai produk perbankan yang sepenuhnya mendukung sektor riil contohnya produk syariah. Terbukti pertumbuhannya di tahun 2008 paling rendah 24% setahun, dengan angka optimis 75% setahun (Metro TV Maret 2009). Tahun ini para investor Arab berlomba merangkul Bank Muamalat untuk bekerjasama membuka cabangnya di seluruh jazirah Arab. Disusul permintaan dari banyak negara dunia termasuk dalam mentoring sistem produk syariah bagi bank umum mereka.
Dengan kondisi diatas tidak akan mengejutkan jika investor akan mengucurkan lebih banyak lagi dana ke perbankan syariah jauh diatas dugaan sementara pengamat ekonomi. Dalam acara Gebyar BCA di televisi Bank BCA menyatakan sudah juga memiliki produk perbankan syariah.
Sesungguhnyalah krisis global ini memberi berkah yang tidak sedikit bagi sektor riil, tentunya jika sektor riil mampu pula merombak pola pikirnya yang sudah terkontaminasi kapitalisme selama ini. Mereka harus betul-betul berorientasi pada pertumbuhan riil diantaranya memperbaiki cara memperlakukan karyawannya tidak lagi semata bagian dari angka production cost yang harus ditekan guna tampil menarik di pasar modal.
Sistem kerja syariah yang membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi, menuntut perusahaan yang ingin memanfaatkan dananya harus memiliki dasar analisa manajemen yang kuat dalam rencana pertumbuhan usaha. Mereka harus punya sistem manajemen yang baik dalam feasibility study, perencanaan, proposal proyek sampai pelaksanaan dan evaluasi. Menyerahkan proyek jangka pendek pada konsultan sangat riskan disamping menurunkan kredibilitas perusahaan dari sisi penilaian pendanaan syariah.
Sistem syariah mengacu kepada analisa empiris yang dapat dipertanggungjawabkan (bersifat ilmiah) yang jauh dari spekulasi sebagaimana teknis kerja finansialisasi. Untuk itu jelas perusahaan yang ingin didanai butuh karyawan berkemampuan riset manajemen mumpuni. Mereka harus bisa mengidentifikasi data, memilahnya, menganalisanya dan menampilkannya dalam bentuk proyeksi keuntungan dan resiko. Karyawan dengan kemampuan demikian masih langka di Indonesia padahal sistem syariah yang terbaik di dunia saat ini berada di Indonesia.
Beberapa perusahaan sudah mulai memberi beasiswa studi kepada karyawannya sebagaimana terlihat dibeberapa milis hrd belakangan ini. Hal ini membuktikan kebutuhan akan kemampuan riset karyawan sudah mulai disadari oleh perusahaan seiring kesadaran pemodal bahwa pertumbuhan riil jauh lebih menguntungkan dibanding berjudi di pasar kapital.
Itulah alasan kenapa mengikuti pendidikan S1 dan MM saat ini adalah langkah strategis bagi tiap individu dalam berkarir di perusahaan maupun berwirausahawan.
Bagaimana menurut Anda? Silakan beri komentar di http://thesiscore.blogspot.com/. (zbu 030409).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar